Senin, 07 Maret 2016

UNTUKMU YANG KURINDUKAN

Manakala sang surya mulai terlelap diujung langit. Senja yang begitu dirindukan dan semilir angin yang mengantarkan setiap untai kata cinta kepada pemilik-pemilik hati yang mulai terisi.
Kau adalah sungai dan Aku adalah samudra, riakmu selalu mengalir ke depan dan semua tentangmu akan mengalir dan berujung padaku di samudra cinta
Seorang gadis menuliskan sebuah kalimat di buku kecil miliknya. Kemudian ia beranjak berdiri dari tempat duduknya lalu memandangi langit senja hari yang begitu menawan, jingga dan gradasi warna lainnya memukau sejenak membuatnya lupa pada apa yang ia tengah hadapi. Kemelut kehidupan yang begitu memikat jiwanya.
Lolly, seorang gadis yang tegar ditengah beribu masalah yang sedang menerpa dirinya. Ia sadar bahwa mungkin ialah yang paling egois dalam setiap apa yang ia temui. Lolly bahkan tak pernah meneteskan air matanya didepan teman dan sahabatnya. Ia selalu tersenyum dan bahkan tak satupun yang tau bagaimana ia dan siapa sesungguhnya ia. Gadis tegar yang selalu menangis setiap malam dalam hatinya.

******


Musim hujan sudah tiba dan menyelimuti kota Jakarta. Angin bertiup agak kencang sore ini, begitu pula hujan yang semakin deras. Pelan-pelan Lolly mengusap wajahnya karena terkena air hujan agar tidak menghalangi pandangan sementara Lolly bergegas menyusuri jalan trotoar yang begitu tampak sepi karena pasti orang-orang sedang menepi agar tidak terkena hujan. Lolly tetap berjalan ditengah hujan yang begitu deras dengan payung bermotif miliknya, Lolly segera memasuki salah satu café yang masih buka pada sore hari yang hujan itu.
Lolly menggigil karena rasa dingin mulai menembus sweter tebalnya. Digosok-gosok tangan berkulit putihnya itu. Tidak lama cokelat panas yang baru saja Lolly pesan datang. Tepat pada saat itulah Lolly melihat seseorang yang hampir saja menabrak pelayan yang tengah membawakan cokelat panas miliknya. Lolly tetap tidak mengalihkan pandangannya terhadap orang itu. Orang itu segera meminta maaf pada pelayan berambut kribo yang membawa minuman pesanan Lolly, untung saja cokelat panas itu tidak terjatuh dari nampan yang dibawanya. Lolly tetap menatapnya sampai orang itu telah duduk di meja kosong yang berada pada sudut ruangan café itu.
Merasa diperhatikan orang tersebut beranjak dari tempat duduknya. Lolly sempat berpikir apakah orang itu akan menghampirinya atau keluar dari café ini, Lolly sedang memikirkan kemungkinan itu. Kemudian Lolly menepuk pelan kepalanya. Ah tidak mungkin. Jangan berpikiran buruk. Pikirannya mulai kacau, ternyata dugaannya benar, orang itu datang menghampiri Lolly. Orang tersebut memperkenalkan dirinya. Mengulurkan tangannya kehadapan Lolly. Mulanya Lolly ragu, tapi begitu memperhatikan penampilannya, dia tampak begitu manis, tubuhnya yang cukup atletis terbalut kemeja rapi, rambutnya yang tertata keren, dan terlihat aura baik hati, dan kelembutan pada dirinya. Lolly menghembuskan napas lega karena berpikir orang tersebut baik hati. Pikiran macam-macamnya kini menghilang. Lolly membalas jabatan tangan orang itu.

Rio, adalah seorang pemuda yang baru saja dikenalnya hari ini di café. Lolly mengingat namanya kembali. Yap, Rio Arizar nama lengkap pemuda itu.

***

Perkenalan singkat pada sore itu membuat hari-hari Lolly berubah. Seorang pemuda yang terlihat diam itu ternyata asik diajak mengobrol, bertukar pendapat, dan terlebih lagi dia dewasa. Saling mengirim pesan singkat yang berisi lelucon, bahkan menimbulkan perhatian-perhatian kecil yang mulai ada diantara keduanya.
Minggu siang, Lolly dan Rio berjalan bersama disebuah taman dekat dengan apartemen elite di kota itu. Saling bercerita mengenai hidup masing-masing. Lolly baru mengetahui jika Rio bukanlah orang asli penduduk kota Jakarta. Rio hanya berkunjung kerumah salah satu saudaranya dan akan kembali lagi ke kota asalnya seminggu lagi. Lolly  sempat  terlihat murung, dan sedih karena seminggu lagi tak ada yang menemaninya lagi dan Lolly akan merasakan kesepian kembali.
Malam tampak sempurna. Langit cerah. Taburan bintang bergabung dengan kerlap-kerlip lampu trotoar, lalu-lintas, mobil, motor, gedung-gedung tinggi dan suara bising kota Jakarta yang tampak begitu ramai. Udara malam dan embusan angin terasa tegar. Entah sudah berapa lama Lolly berdiri dibalkon apartemennya, pikirannya tak lepas dari pemuda yang bernama Rio itu. Ponselnya berbunyi, siapa malam-malam seperti ini menelfonnya yang tengah asik memikirkan pemuda berwajah manis itu. Rio Arizar, tertera nama yang begitu besar pada ponsel milik Lolly. Sempat terlintas dipikirannya ada apa Rio menelfonnya malam-malam seperti ini. Dengan ragu-ragu, ia menyapu rambutnya yang menghalangi wajahnya itu kebelakang dan menarik napas panjang.
Kemudian setelah membulatkan tekad, Lolly menempelkan telinga kanannya pada ponselnya. Terlihat serius ucapan Rio dari seberang sana, yang membuat Lolly mengerutkan keningnya dan mendadak terkejut mendengar ucapan Rio.
Oh Tuhan betapa terkejutnya mendengar pemuda beberapa hari yang lalu Lolly kenal di café sore itu kini menyatakan cintanya kepadanya. Lolly belum menerimanya, Lolly masih memikirkan jawaban yang akan diberikan kepada Rio. Ya, memang benar Rio adalah pemuda yang baik sekali padanya. Menemaninya ke toko buku, membeli cokelat panas kesukaanya, mengantarnya pulang, dan masih banyak lagi kebaikan Rio pada Lolly.
Dua hari setelah telfon Rio pada Lolly, dan tidak ada pesan singkat seperti biasanya. Kini Lolly mengirimkan pesan singkat pada Rio. Tidak ada basa basi yang mengawali pesan tersebut. Sekitar beberapa menit pesan itu dikirimkan langsung di balas oleh pemilik nomor yang tertera di layar ponsel milik Lolly.
Lolly meyakinkan dirinya, senyum menghiasi wajah Lolly, Teringat oleh Lolly lelucon Rio yang menghibur, ketulusan Rio yang membuat Lolly pun mengiyakannya. Lolly resmi menjadi kekasih pemuda yang dikenal di café sore itu. Tak heran bila menyenangkan sekali menjadi kekasih seorang pemuda yang terjun di dunia musik dan menjadi anak band, bahkan banyak digandrungi oleh sejuta umat, terutama wanita-wanita yang sempat membuat hati Lolly gundah.
Seminggu telah berlalu, Rio harus meninggalkan Lolly, dan kembali ke kota asalnya. Lolly mengantarkan Rio ke bandara, celotehan-celotehan kecil diutarakan Lolly kepada kekasihnya itu sembari memeluknya. Rio tersenyum pada Lolly.

***

            Pacaran lewat internet. Kedengarannya kurang meyakinkan. Tapi itulah yang terjadi pada Lolly dan kekasihnya. Dan dia begitu sempurna sampai membuat Lolly takut dan berpikir apa yang dilakukan Rio disana yang dipenuhi jadwal bandnya yang begitu padat. Hubungan jarak jauh Lolly dengan Rio berlangsung cukup lancar. Begitu banyak kesamaan diantara keduanya.
Sama seperti pasangan kekasih “normal”, Keduanya kerap kali bertengkar. Biasanya karena kurang lancarnya komunikasi yang terbatas lewat internet. Sudah empat bulan berjalan, Lolly dan Rio menjalankan hubungan jarak jauhnya. Meskipun begitu bukanlah penghalang bagi keduanya. Nyanyian, lelucon yang membuat Lolly tertawa sendiri sampai lelucon garing kerap kali diberikan Rio pada Lolly melalui jejaring sosial.
Tak terasa begitu lama sekali hingga empat bulan ini keduanya tidak bertemu, saling meridukan awal pertemuan di sebuah café pada sore hari yang diguyur oleh derasnya hujan, dan perkenalan yang tak terduga. Kini hanyalah sebatas komunikasi melalui internet yang menghubungkan hubungan keduanya.
            Rio begitu banyak membawa perubahan pada kehidupan Lolly, Lolly menjadi lebih tenang menjalani kehidupannya semenjak adanya Rio. Lolly begitu lebih bahagia dengan kehidupannya sekarang.

******

            Mencintai dan dicintai adalah hal terindah yang bisa dialami oleh siapa pun. Cinta bisa menghapus segala macam rasa sakit. Cinta mampu membantu menyembuhkan luka, Itulah yang Lolly rasakan saat ini. Kekuatan cinta membuatnya dapat bertahan sampai saat ini.  
            Langit senja menghanyutkannya dalam lamunan. Betapa banyak peristiwa yang telah terjadi dalam hidup Lolly. Rangkaian peristiwa dala hidupnya ini benar-benar mengubah cara pandangnya mengenai banyak hal. Terutama mengenai keluarga, teman atau sahabat, masa depan, dan cinta.
Tiba-tiba Lolly merasakan de javu. Kembali ke masa perkenalan pertama yang tak terduga dengan kekasihnya, Rio Arizar. Karena buku kecilnya lah yang menjadi saksi pertemuan keduanya hingga dua tahun ini berhubungan jarak jauh. Semua Lolly tuangkan didalam buku kecil miliknya itu. Kemudian Lolly kembali duduk dibangku taman didekatnya. Mulailah Lolly membuka kembali buku kecil miliknya, dan menulis sesuatu didalamnya.
Ketika musim memajang rindunya pada hujan
Ada sebongkah cemas yang tidak bisa kuucapkan
Mengingat kembali indahnya matamu saat itu
Jika kau bertanya padaku tentang rindu?
Kan kusampaikan rinduku pada senja di sore ini untukmu
Tentang jarak yang memisahkan
Tentang waktu yang mengalir cepat
Dan tentang cinta yang yang begitu dalam
Hai kamu, apa kabar?
Disini aku merindukanmu..
Inginnya bertemu walau hanya memandang dari jauh
Inginnya segera memandang walau nyatanya tak bisa ku sentuh
Ku pejamkan mata
Coba kuperjelas suara hatiku
Yang seperti menyebut nama lirih
Kubuka mataku
Hanya ada bayangmu dilangit luas
Ku hanya ingin berpesan kepadaNya
Aku menitipkanmu dalam penjagaanNya
Selagi aku tak berada disisimu yang jauh ini

Lolly telah menyelesaikan tulisannya. Ditutup buku kecilnya itu, kemudian ia teringat kekasihnya, Rio. Lolly tersenyum lalu memandang foto kekasihnya itu, segala kebaikan hati, kekonyolan, dan kenangan-kenangan yang pernah ia miliki bersamanya membuat Lolly mempercayakan Rio untuk menjaga hati dan cintanya. Lolly percaya, bahwa Tuhan akan segara mempertemukannya kembali dengan kekasihnya. Pasti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar