UNTUKMU YANG KURINDUKAN
Manakala sang surya mulai terlelap diujung langit. Senja yang begitu dirindukan dan semilir angin yang mengantarkan setiap untai kata cinta kepada pemilik-pemilik hati yang mulai terisi.
Kau
adalah sungai dan Aku adalah samudra, riakmu selalu mengalir ke depan dan semua
tentangmu akan mengalir dan berujung padaku di samudra cinta
Seorang gadis menuliskan sebuah kalimat di buku
kecil miliknya. Kemudian ia beranjak berdiri dari tempat duduknya lalu
memandangi langit senja hari yang begitu menawan, jingga dan gradasi warna
lainnya memukau sejenak membuatnya lupa pada apa yang ia tengah hadapi. Kemelut
kehidupan yang begitu memikat jiwanya.
Lolly, seorang gadis yang tegar ditengah beribu
masalah yang sedang menerpa dirinya. Ia sadar bahwa mungkin ialah yang paling
egois dalam setiap apa yang ia temui. Lolly bahkan tak pernah meneteskan air
matanya didepan teman dan sahabatnya. Ia selalu tersenyum dan bahkan tak
satupun yang tau bagaimana ia dan siapa sesungguhnya ia. Gadis tegar yang selalu
menangis setiap malam dalam hatinya.
******
Musim hujan sudah tiba dan menyelimuti kota Jakarta.
Angin bertiup agak kencang sore ini, begitu pula hujan yang semakin deras.
Pelan-pelan Lolly mengusap wajahnya karena terkena air hujan agar tidak menghalangi
pandangan sementara Lolly bergegas menyusuri jalan trotoar yang begitu tampak
sepi karena pasti orang-orang sedang menepi agar tidak terkena hujan. Lolly tetap
berjalan ditengah hujan yang begitu deras dengan payung bermotif miliknya,
Lolly segera memasuki salah satu café yang masih buka pada sore hari yang hujan
itu.
Lolly menggigil karena rasa dingin mulai menembus
sweter tebalnya. Digosok-gosok tangan berkulit putihnya itu. Tidak lama cokelat
panas yang baru saja Lolly pesan datang. Tepat pada saat itulah Lolly melihat
seseorang yang hampir saja menabrak pelayan yang tengah membawakan cokelat
panas miliknya. Lolly tetap tidak mengalihkan pandangannya terhadap orang itu.
Orang itu segera meminta maaf pada pelayan berambut kribo yang membawa minuman
pesanan Lolly, untung saja cokelat panas itu tidak terjatuh dari nampan yang
dibawanya. Lolly tetap menatapnya sampai orang itu telah duduk di meja kosong
yang berada pada sudut ruangan café itu.
Merasa diperhatikan orang tersebut beranjak dari
tempat duduknya. Lolly sempat berpikir apakah orang itu akan menghampirinya
atau keluar dari café ini, Lolly sedang memikirkan kemungkinan itu. Kemudian
Lolly menepuk pelan kepalanya. Ah tidak mungkin. Jangan berpikiran buruk.
Pikirannya mulai kacau, ternyata dugaannya benar, orang itu datang menghampiri
Lolly. Orang tersebut memperkenalkan dirinya. Mengulurkan tangannya kehadapan
Lolly. Mulanya Lolly ragu, tapi begitu memperhatikan penampilannya, dia tampak
begitu manis, tubuhnya yang cukup atletis terbalut kemeja rapi, rambutnya yang
tertata keren, dan terlihat aura baik hati, dan kelembutan pada dirinya. Lolly menghembuskan
napas lega karena berpikir orang tersebut baik hati. Pikiran macam-macamnya
kini menghilang. Lolly membalas jabatan tangan orang itu.
Rio, adalah seorang pemuda yang baru saja dikenalnya
hari ini di café. Lolly mengingat namanya kembali. Yap, Rio Arizar nama lengkap
pemuda itu.
***
Perkenalan singkat pada sore itu membuat hari-hari
Lolly berubah. Seorang pemuda yang terlihat diam itu ternyata asik diajak mengobrol,
bertukar pendapat, dan terlebih lagi dia dewasa. Saling mengirim pesan singkat
yang berisi lelucon, bahkan menimbulkan perhatian-perhatian kecil yang mulai
ada diantara keduanya.
Minggu siang, Lolly dan Rio berjalan bersama
disebuah taman dekat dengan apartemen elite di kota itu. Saling bercerita
mengenai hidup masing-masing. Lolly baru mengetahui jika Rio bukanlah orang
asli penduduk kota Jakarta. Rio hanya berkunjung kerumah salah satu saudaranya
dan akan kembali lagi ke kota asalnya seminggu lagi. Lolly sempat terlihat
murung, dan sedih karena seminggu lagi tak ada yang menemaninya lagi dan Lolly
akan merasakan kesepian kembali.
Malam tampak sempurna. Langit cerah. Taburan bintang
bergabung dengan kerlap-kerlip lampu trotoar, lalu-lintas, mobil, motor,
gedung-gedung tinggi dan suara bising kota Jakarta yang tampak begitu ramai. Udara
malam dan embusan angin terasa tegar. Entah sudah berapa lama Lolly berdiri
dibalkon apartemennya, pikirannya tak lepas dari pemuda yang bernama Rio itu. Ponselnya
berbunyi, siapa malam-malam seperti ini menelfonnya yang tengah asik memikirkan
pemuda berwajah manis itu. Rio Arizar, tertera nama yang begitu besar pada
ponsel milik Lolly. Sempat terlintas dipikirannya ada apa Rio menelfonnya
malam-malam seperti ini. Dengan ragu-ragu, ia menyapu rambutnya yang
menghalangi wajahnya itu kebelakang dan menarik napas panjang.
Kemudian setelah membulatkan tekad, Lolly
menempelkan telinga kanannya pada ponselnya. Terlihat serius ucapan Rio dari
seberang sana, yang membuat Lolly mengerutkan keningnya dan mendadak terkejut
mendengar ucapan Rio.
Oh Tuhan betapa terkejutnya mendengar pemuda
beberapa hari yang lalu Lolly kenal di café sore itu kini menyatakan cintanya
kepadanya. Lolly belum menerimanya, Lolly masih memikirkan jawaban yang akan diberikan
kepada Rio. Ya, memang benar Rio adalah pemuda yang baik sekali padanya.
Menemaninya ke toko buku, membeli cokelat panas kesukaanya, mengantarnya pulang,
dan masih banyak lagi kebaikan Rio pada Lolly.
Dua hari setelah telfon Rio pada Lolly, dan tidak
ada pesan singkat seperti biasanya. Kini Lolly mengirimkan pesan singkat pada
Rio. Tidak ada basa basi yang mengawali pesan tersebut. Sekitar beberapa menit
pesan itu dikirimkan langsung di balas oleh pemilik nomor yang tertera di layar
ponsel milik Lolly.
Lolly meyakinkan dirinya, senyum menghiasi wajah
Lolly, Teringat oleh Lolly lelucon Rio yang menghibur, ketulusan Rio yang
membuat Lolly pun mengiyakannya. Lolly resmi menjadi kekasih pemuda yang dikenal
di café sore itu. Tak heran bila menyenangkan sekali menjadi kekasih seorang
pemuda yang terjun di dunia musik dan menjadi anak band, bahkan banyak digandrungi
oleh sejuta umat, terutama wanita-wanita yang sempat membuat hati Lolly gundah.
Seminggu telah berlalu, Rio harus meninggalkan
Lolly, dan kembali ke kota asalnya. Lolly mengantarkan Rio ke bandara,
celotehan-celotehan kecil diutarakan Lolly kepada kekasihnya itu sembari
memeluknya. Rio tersenyum pada Lolly.
***
Pacaran lewat internet.
Kedengarannya kurang meyakinkan. Tapi itulah yang terjadi pada Lolly dan
kekasihnya. Dan dia begitu sempurna sampai membuat Lolly takut dan berpikir apa
yang dilakukan Rio disana yang dipenuhi jadwal bandnya yang begitu padat.
Hubungan jarak jauh Lolly dengan Rio berlangsung cukup lancar. Begitu banyak
kesamaan diantara keduanya.
Sama seperti pasangan kekasih “normal”, Keduanya
kerap kali bertengkar. Biasanya karena kurang lancarnya komunikasi yang
terbatas lewat internet. Sudah empat bulan berjalan, Lolly dan Rio menjalankan
hubungan jarak jauhnya. Meskipun begitu bukanlah penghalang bagi keduanya. Nyanyian,
lelucon yang membuat Lolly tertawa sendiri sampai lelucon garing kerap kali
diberikan Rio pada Lolly melalui jejaring sosial.
Tak terasa begitu lama sekali hingga empat bulan ini
keduanya tidak bertemu, saling meridukan awal pertemuan di sebuah café pada
sore hari yang diguyur oleh derasnya hujan, dan perkenalan yang tak terduga.
Kini hanyalah sebatas komunikasi melalui internet yang menghubungkan hubungan
keduanya.
Rio begitu banyak membawa perubahan
pada kehidupan Lolly, Lolly menjadi lebih tenang menjalani kehidupannya
semenjak adanya Rio. Lolly begitu lebih bahagia dengan kehidupannya sekarang.
******
Mencintai dan dicintai adalah hal
terindah yang bisa dialami oleh siapa pun. Cinta bisa menghapus segala macam
rasa sakit. Cinta mampu membantu menyembuhkan luka, Itulah yang Lolly rasakan
saat ini. Kekuatan cinta membuatnya dapat bertahan sampai saat ini.
Langit senja menghanyutkannya dalam
lamunan. Betapa banyak peristiwa yang telah terjadi dalam hidup Lolly.
Rangkaian peristiwa dala hidupnya ini benar-benar mengubah cara pandangnya
mengenai banyak hal. Terutama mengenai keluarga, teman atau sahabat, masa
depan, dan cinta.
Tiba-tiba Lolly merasakan de javu. Kembali ke masa perkenalan pertama yang tak terduga dengan
kekasihnya, Rio Arizar. Karena buku kecilnya lah yang menjadi saksi pertemuan
keduanya hingga dua tahun ini berhubungan jarak jauh. Semua Lolly tuangkan
didalam buku kecil miliknya itu. Kemudian Lolly kembali duduk dibangku taman
didekatnya. Mulailah Lolly membuka kembali buku kecil miliknya, dan menulis
sesuatu didalamnya.
Ketika musim memajang
rindunya pada hujan
Ada sebongkah cemas
yang tidak bisa kuucapkan
Mengingat kembali
indahnya matamu saat itu
Jika kau bertanya
padaku tentang rindu?
Kan kusampaikan rinduku
pada senja di sore ini untukmu
Tentang jarak yang
memisahkan
Tentang waktu yang
mengalir cepat
Dan tentang cinta yang
yang begitu dalam
Hai kamu, apa kabar?
Disini aku
merindukanmu..
Inginnya bertemu walau
hanya memandang dari jauh
Inginnya segera
memandang walau nyatanya tak bisa ku sentuh
Ku pejamkan mata
Coba kuperjelas suara
hatiku
Yang seperti menyebut
nama lirih
Kubuka mataku
Hanya ada bayangmu
dilangit luas
Ku hanya ingin berpesan
kepadaNya
Aku menitipkanmu dalam
penjagaanNya
Selagi aku tak berada
disisimu yang jauh ini
Lolly telah menyelesaikan tulisannya. Ditutup buku
kecilnya itu, kemudian ia teringat kekasihnya, Rio. Lolly tersenyum lalu
memandang foto kekasihnya itu, segala kebaikan hati, kekonyolan, dan
kenangan-kenangan yang pernah ia miliki bersamanya membuat Lolly mempercayakan
Rio untuk menjaga hati dan cintanya. Lolly percaya, bahwa Tuhan akan segara
mempertemukannya kembali dengan kekasihnya. Pasti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar